Revolusi dunia industri ke-4 yang terjadi saat ini membuka keran arus pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor, kini terdapat banyak masyarakat yang terjun menjadi pelaku ekonomi misalnya dengan berwirausaha. Hal tersebut kemudian memunculkan kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat berupa kemampuan pengelolaan keuangan yang apik, seperti jasa atestasi dan non-atestasi yang dilakukan profesi Akuntan Publik. Fenomena tersebut berusaha direspon oleh program studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan meresmikan Certified Public Accountant (CPA) Teste Center pada hari Kamis (17/1) di Gedung Ki Bagus Hadikusumo E.4 Lantai 2. Pada kesempatan tersebut juga dilangsungkan penandatanganan MoU kerjasama antara UMY dan IAPI (Institut Akuntan Publik Indonesia).

Rektor UMY, Dr. Ir Gunawan Budiyanto, M.P., menyampaikan bahwa perkembangan yang terjadi kini menuntut kompetensi pada setiap bidang. “Kebutuhan di lapangan perlu untuk kita respon secara baik untuk menjadikan masyarakat kita lebih maju dan berdaya, bahkan secara lebih luas agar jasa kita dapat dimanfaatkan secara internasional. Melalui peresmian pusat ujian CPA tersebut, saya berharap agar mahasiswa kita dapat memanfaatkan fasilitas tersebut secara maksimal karena dengan ini kompetensi yang diperlukan untuk menjadi Akuntan dapat terukur secara riil. Ini juga agar kita dapat menghindari tindakan yang tidak profesional, sesuai dengan nasihat Luqman pada anaknya untuk menjauhi perbuatan mungkar dan selalu berbuat baik,” ujarnya.

Kaprodi Akuntansi UMY, Dr. Ahim Abdurahim SE.,M.Si.,Ak.,SAS.,CA., menambahkan peresmian CPA test center tersebut juga guna mempersiapkan mahasiswa dengan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi. “Industri 4.0 menuntut kita untuk fasih untuk bekerja dengan teknologi, kompetensi inilah yang akan kita berikan kepada mahasiswa melalui CPA test center tersebut. Dengan ini harapannya kita dapat menghasilkan Akuntan Publik yang berkontribusi maksimal bagi masyarakat dan juga untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, profesi Akuntan Publik memiliki berbagai peluang juga termasuk tantangan di lapangan, terlebih dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN saat ini. Dijelaskan oleh Ketua IAPI, Aria Kanaka, S.E., M.Ak., bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang bagus dalam bidang akuntansi. “Lulusan S1 Akuntansi dari perguruan tinggi di Indonesia cukup banyak sekitar 35 ribu pertahunnya dan bagi yang sudah CPA dapat bekerja di negara ASEAN karena standar internasional sudah kita adopsi. Dukungan dari berbagai stakeholders juga memadai seperti berbagai institusi pendidikan dan pendukung lainnya. Pemerintah juga memberikan payung hukum dengan memberikan UU 5/2011 tentang Akuntan publik dan UU lainnya,” jelasnya. Akuntan yang sudah memiliki sertifikat CPA dari IAPI sendiri hingga saat ini sudah berjumlah 2.064 orang.

Pengajar di Jurusan Akuntansi, Universitas Indonesia (UI) tersebut juga menyampaikan bahwa meskipun peluang yang ada memang menguntungkan, hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri untuk bidang ini. “Jika kita bandingkan dengan negara ASEAN lainnya, jumlah Akuntan di Indonesia relatif lebih sedikit dibandingkan Singapura, Malaysia, Philipina, dan Thailand. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Akuntan Indonesia mengingat pasar jasa di negara kita cukup besar, sehingga sangat mungkin tenaga profesional asing juga banyak masuk berkompetisi ke Indonesia. Kemudian juga fasilitas pendidikan untuk akuntansi yang belum tersebar secara merata di seluruh Indonesia, lalu kemampuan berbahasa asing juga perlu kita tingkatkan,” paparnya.

Aria menyampaikan bahwa Akuntan Indonesia haru mempersiapkan diri sematang mungkin agar dapat lebih unggul dalam MEA sehingga dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan bisa melebarkan sayap ke negara ASEAN lain.

BHP UMY